masjidil haram

Minggu, 30 Desember 2012

Ribuan Merpati, Tanpa Kotoran di Nabawi

  MADINAH- Bila Allah berkendak apapun bisa terjadi. Demikian kekuasaan Allah yang diperlihatkan ketika berada di Madinah, terutama di sekeliling Masjid Nabawi,Madinah, Arab Saudi.

Saat hendak memasuki masjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW tersebut, terlihat ribuan burung merpati hinggap di jalan raya. Kawanan besar burung tersebut menanti makanan yang diberikan para pejalan kaki.

Takjubnya, tidak satu pun kotoran hewan bersayap tersebut terlihat di seputar Masjid Nabawi. Padahal, jarak hinggap burung dengan masjid hanya sekira 100 meter. Kotoran dan rontokkan sayap burung tersebut tidak tampak lagi 100 meter menjelang masuk masjid Nabawi.

Kenyataan ini tentu membuat takjub para pendatang termasuk para awak media yang bertugas meliput di Jeddah. Kalimat yang keluar dari mulut para wartawan, "Masya Allah, Masjid Nabawi sangat dijaga Allah. Bahkan burung saja tidak mau membuang kotorannya di sana".

Sebenarnya, beberapa Merpati terbang di atas Masjid Nabawi. Tapi tetap saja tidak terlihat kotoran dimaksud. Hal itu tampaknya menjadi alasan sebagian jamaah yang memutuskan sholat di pelataran masjid, bukan masuk ke dalam.

Beberapa wartawan, termasuk Okezone mencoba menggiring kelompok tersebut ke arah pintu masuk Masjid Nabawi. Tapi usaha tersebut selalu gagal karena kawanan burung terbang dan kembali hinggap di lokasi sama.

Secara logika, di setiap sudut Masjid Nabawi banyak lekukan yang nyaman dijadikan sarang atau tempat berteduh burung tersebut. Kondisi tersebut terlihat di sudut bangunan hotel atau pertokoan. Bahkan, di jendela hotel tempat panitia haji menginap banyak kotoran burung yang sudah mengering.
(uky)

Gua Hira, Perjuangan untuk Meraih Kebenaran

 
JARUM jam masih bertengger diangka 8, namun cahaya matahari yang cukup panas sudah menembus kulit. Pagi yang cerah untuk tetap mengagumi kebesaran Allah, tatkala di depan terbentang sebuah gunung yang tinggi dan besar. Gunung itu tak lain adalah Gunung Cahaya atau masyarakat sekitar menamakannya Jabal Nur.

Gunung yang dipuncakya terdapat Gua Hira memiliki sejarah yang mulia ketika menjadi saksi, Utusan Allah Nabi Muhamad mendapatkan wahyu pertama melalui Malaikat Jibril. Gua Hira menjadi tempat berlabuhnya kebesaran firman Allah, atas lahirnya surat pertama Alquran yakni Surat Al Alaq.

Dalam sejarahnya, berkali-kali Nabi Muhamad menaiki dan menuruni Jabal Nur untuk berdiam, merenung dan berpikir atas kebesaran Tuhan sekaligus mengasingkan diri dari berbagai keruntuhan moral penduduk Mekah. Sampai akhirnya Allah Berkehendak, untuk membenarkan Agama-Nya dengan menurunkan Wahyu ayat pertama berbunyi 'Iqro' yang artinya Bacalah.

Jabal Nur, menjadi salah satu tempat ziarah jamaah haji dunia termasuk Indonesia. Jabal Nur memiliki ketinggian 200 meter dan jarak 6 km dari sebelah utara kota mekah atau  sebelumnya dari rumah Nabi Muhamad bersama Istri tercintanya Siti Khadijah.

Dan memang tak mudah mencapai Gua Hira, tempat Nabi Muhamad mendapatkan wahyu dengan perantara malaikat jibril. Perjalanan ke sana cendrung menanjak, terjal dan curam. Kaki pegal, letih dan peluh keringat menjadi modal utama untuk menuju serta  menaiki puncak Jabal Nur ke Gua Hira. Gunung ini secara nyata merupakan tempat yang tandus, panas, dan terdiri dari bebatuan yang keras dan tajam.

Namun, pada saat keletihan membahana di tengah maupun di puncak  perjalanan, sebuah pondokan yang sederhana menyapa dengan ramah. Di tempat ini dengan disediakan berbagai macam makanan dan minuman termasuk buah-buahan. Di tempat ini kita bisa rehat sejenak, untuk makan cemilan atau minum air putih atau secangkir teh-kopi sambil melihat pemandangan.

Puncak kelelahan, juga dapat dicairkan dengan pemandangan yang indah dari puncak Jabal Nur. Terlihat jelas perumahan dan jam Big Ben yang berada di Masjid Nabawi. Pemandangan alam juga begitu indah, bukit-bukit batu tersusun secara baik yang dibawahnya berbaris rumah dan perkampungan penduduk Arab Saudi.

Setelah menempuh perjalanan yang menanjak dan terjal selama 2 jam lebih, akhirnya puncak jabal Nur dapat terlihat. Keberadaan Gua Hira-pun dapat diketahui, dengan tulisan berbahasa arab yakni Gua Hira dan ayat 1-5 surat Al Alaq.

Bentuk Gua Hira agak memanjang, terletak di belakang 2 batu raksasa yang sangat dalam dan sempit, tidak dapat dilalui lebih dari satu orang. Di dalam gua yang memiliki ketinggian 2 meter ini  hanya dapat memuat 5 orang saja. Ditengah suasana berdesak-desakan sebagian peziarah termasuk asal Indonesia, tetap melakukan sholat sunah 2 rokaat. Mereka larut dan khusu' dalam sujud dan doa-nya yang ditujukan kepada Allah. Suasana sakral, penuh haru dan mata yang berkaca-kaca tumpah ruah mewarnai ketika para peziarah berada di dalam gua.

Betapa tidak, perjuangan yang dilakukan Nabi Muhamad memang tidak mudah dan butuh kerja keras, semangat, kegigihan serta keuletan yang luar biasa dalam men-sia'rkan agama islam. Perjuangan baru dimulai dan menjadi beban yang luar biasa dalam penyampaian wahyu pertama dari Allah kepada kaumnya. Dimana, kaumnya kafir quraish kemudian, menolak, mencaci maki, melakukan kekerasan hingga kepada pengucilan serta harus melampaui peperangan.

Namun pertolongan Allah memang sangat dekat dan memberikan jalan dalam setiap perjuangan setelah melewati berbagai ujian. "Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.' (QS. al-Baqarah: 214)

Dan sebagai umatnya Nabi Muhamad, kita harus tetap berjuang, dalam menghadapi ujian hidup dengan melewatinnya dan mengambil hikmah secara baik. Hal ini sebagai langkah kita untuk membesar keimanan kita kepada Allah. "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?" (QS Al-Ankabut:2-3).

(Akmal Irawan/Sindoradio/ful)

Toko Sembako Indonesia di Madinah

 
RINDU atas produk barang, makanan serta beragam jenis sayuran asal Indonesia menjadi hal yang lumrah ketika jauh dari tanah air. Untuk mengobati rasa rindu ada toko yang membantu jamaah dalam memenuhinya. Toko tersebut adalah Toko Indomesia Asean Center. Di toko ini, menyediakan berbagai kebutuhan produk barang dan sayuran yang ada di indonesia.

Di atas  toko tersebut adalah Terpampang Tulisan Besar, Toko Indonesia Asean Center;  Sedia Barang dan Makanan Indonesia, Malaysia, Filiphina, dan Thailand. Toko Indonesia ini  terletak disekitar jalan Masane dan tidak jauh dari Masjid Nabawi serta memiliki tempat penjualan yang cukup luas yakni 2 ruang toko di jadikan satu.

Di toko ini menjual berbagai produk yang ada di Indonesia, dari makanan kecil hingga minuman dan mie instant. "Toko ini menjual produk barang,  kebutuhan bahan baku  memasak, seperti ikan asin,  sepaket sayur asem, toge, tahu, tempe," jelas penjaga warung Faisal Bamasak yang juga asli Bali- Indonesia.

Faisal yang juga keturunan Arab Bali, mengakui bahwa toko sembako yang dijaganya dimiliki oleh orang keturunan indonesia-arab. "Toko ini milik pengusaha Indonesia dan telah memiliki beberapa cabang di Arab Saudi," ungkapnya.

Toko ini telah berdiri sejak 20 tahun lalu dan mendapatkan tempat dihati warga indonesia, asia dan warga arab. " Alhamdulillah, meskipun tidak terlalu besar tapi dapat memenuhi kebutuhan dan senanglah  pelanggan," imbuh Faisal.

Toko Indonesia Asean Center tidak hanya di datangi dan disukai pengunjung asal Indonesia maupun asia melainkan juga dari warga arab saudi dan lintas benua. Kehadiran mereka menjadi puncak dan memberikan keuntungan, ketika musim haji dan umroh. Untuk maslah harga, toko indonesia ini masih tidak terlalu mahal dan dapat terjangkau oleh warga indonesia dan asia di sana.

Salah satu pembeli asal Indonesia, Firza Arifin mengakui komplitnya barang yang tersedia di Toko Indonesia ini. "Alhamdulillah harganya tidak terlalu mahal. Yang pasti barang yang saya butuhkan seperti produk sampo, sabun, minuman, obat-obatan indonesia, sayuran serta bahan baku dapat terpenuhi," jelas Firza Arifin.

(Akmal Irawan/Sindoradio/ful)

Jabal Magnet, Fenomena Unik di Kota Nabi

FENOMENA alam tak kunjung habis di tanah suci kota Nabi Madinah Al Munawaroh Arab Saudi. Kekuatan dan keberadaan alam yang ditunjukan merupakan wujud kebesaran Allah, bagi umat-Nya untuk berpikir dan bersyukur. Salah satu tempat dari Alam yang memiliki kekuatan magnet adalah Jabal (Gunung) Magnet, menjadi yang fenomenal dan banyak dibicarakan jamaah haji dan umroh. Kelebihannya, yakni mampu mendorong kendaraan dengan kecepatan 100-120 km per jam dengan posisi persneling netral.

Jalan dari Kota Madinah menuju kawasan ini, untuk sampai ke lokasi tidak sampai 45 menit dengan mobil kecil atau bus. Pemandangan di kedua sisi jalan menuju kawasan ini juga cukup indah dan menakjubkan. Sebelah kanan dan kiri jalan dikelilingi oleh gunung berbatu. Terdapat juga areal peternakan domba, unta, serta kebun kurma yang membuat gurun menjadi agak menghijau.

Namanya memang tak setenar dengan tempat bersejarah lainnya yang ada di kota suci Madinah dan Mekah, seperti Jabal Uhud, Baqi’ Jabal Rahmah, dan lainnya. Tapi, belakangan ini, Jabal magnet yang terletak sekitar 30 KM dari kota Madinah menuju arah kota Tabuk mengundang jemaah haji maupun umrah untuk datang merasakan kelebihannya.

Memang Jika dilihat secara kasat mata, Jabal Magnet sebetulnya tidak jauh beda dengan daerah lainnya, yakni berupa bukit-bukit batu gersang seperti yang banyak mengelilingi Kota Medinah.  Hanya ketika kendaraan sampai di jalan raya di antara perbukitan tersebut, baru akan merasakan ada suatu keanehan.

Keanehan terjadi dan begitu nyata, ketika mobil kendaraan yang saya tumpangi bersama teman MCH menuju ke arah jabal magnet  terasa berat (ada penolakan daya magnet). Sedangkan, jika  menuju kembali ke arah ke madinah akan terasa dorongan magnet yang begitu kuat. Untuk arah balik misalnya, jalan mobil akan berjalan dengan kecepatan tinggi menjauhi Jabal Magnet, meskipun persneling mobil dalam posisi netral. Kecepatan kendaraan-pun bisa mencapai 100-120 km perjam meski baru sekitar 3 km.

Lukmanul Hakim, Sopir petugas haji yang juga seorang mukimin menegaskan mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi, meskipun persneling dalam posisi netral. "Ini dalam posisi netral dan kaki saya angkat ya," jelas Lukman.

Namun kian lama kecepatan kendaraan makin tinggi. Bahkan, baru sekitar 2 km, kecepatan mobil ini sudah menunjukkan angka 100-120 km per jam. Secara umum, memang medan jalan menuju Kota Medinah agak menurun, namun dengan kondisi demikian tidak wajar akselerasi mobil begitu cepat sampai 120 km. " Tidak wajar mobil ini memiliki kecepatan tinggi, di jalan yang sebenarnya tidak begitu menurun" tegas Lukman.

Bahkan, untuk menghilangkan rasa penasaran, mobil itu tetap dibiarkan dalam posisi netral dan melaju kecepatan tinggi. Namun untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, maka mobil kemudian dihentikan dan melanjutkan perjalanan  dengan menggunakn persneling 1 dan seterusnya.

Belum diketahui secara jelas apa hubungan antara magnet dengan laju kendaraan. Sampai saat ini juga belum ada penelitian tentang daya dorong magnet itu oleh dari ahli. “Tidak ada penelitian. Ini juga sekadar informasi dari mulut ke mulut hingga banyak orang yang tertarik main ke sini,” cerita lukman.

Namun, dari sejumlah informasi yang berkembang di Madinah, menyebutkan, dulunya Jabal Magnet ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang Arab Baduy. Saat itu si Arab ini menghentikan mobilnya karena ingin buang air kecil. Namun karena sudah kebelet, ia mematikan mesin mobil, tapi tidak memasang rem tangan.

Ketika sedang enak-enaknya pipis, ia kaget bukan kepalang, mobilnya berjalan sendiri dan makin lama makin kencang. “Ia berusaha mengejar, tapi tentu saja tidak berhasil. Dan menurut kisahnya, mobilnya tersebut baru berhenti setelah melenceng ke tumpukan pasir di samping jalan,” ungkap Lukman.

pemerintah Arab Saudi menjadikan kawasan ini sebagai objek wisata semata. Arab Saudi sudah membangun jalan raya yang begitu lebar agar pengunjung bisa merasakan dorongan magnet ketika melaju dengan kendaraannya. Di bagian ujung dibuat jalan melingkar untuk putaran ketika pengaruh medan magnet sudah lemah.

Fenomena Alam yang unik, tentang Bumi isinya, adanya siang dan malam menjadi sesuatu untuk memperbesar keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. "Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai pada-Nya. Dan menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Ar-Ra’d, 13: 3-4)
(Akmal Irawan/Sindoradio/ahm)

Roti Tamis, Cita Rasa Khas Warga Arab

MATAHARI belum begitu tinggi, namun rasa lapar telah 'menusuk' lambung yang belum terisi makanan. Suasana yang ramai, telah terlihat di sejumlah warung, yang menyuguhkan sarapan pagi bagi warga Madinah Arab Saudi. Antrean tampak terlihat dan dengan sabar, mereka menunggu giliran untuk membeli roti khas Arab dalam memenuhi kebutuhan mendesak perutnya.

Di Kota Madinah, warganya memiliki tradisi yang unik dalam menemani cerahnya pagi. Sebuah roti pipih dengan bumbu khas serta hangatnya teh manis menjadi menu utama sarapan di pagi hari bagi warga arab.

Roti itu dikenal dikalangan warga Arab Saudi dengan Roti Tamis. Tamis adalah roti bulat pipih dengan diameter sekitar 30 centi meter. Tamis asal-muasalnya adalah makanan khas orang Arab Yaman, kini sudah jadi makanan sehari-hari orang Saudi, termasuk di Madinah. Dengan bahan dasar dari tepung gandum yang diadoni dan di ratakan dan dibuat tipis, lalu kemudian dibakar di dalam tungku tanah.

Proses pembakarannya yakni, dengan cara menempelkan bahan roti, di dinding tungku yang sudah panas dengan semburan api dari bawah. Ketika  sudah terlihat matang merata dengan warna agak coklat dan agak hitam, baru diangkat dari tungku. Roti tamis kemudian siap disuguhi dan dinikmati warga arab untuk menambah selera makan di pagi hari.

Roti tamis memiliki rasa khas, renyah dan sedikit ada aroma hangus. Untuk menemani roti tamis pasangan bumbunya di beri nama Ful. Roti tamis dan ful, bukan tidak bisa dipisahkan antara keduanya, namun lebih bijak membiarkan keduanya bebas berkolaborasi, akan menghasilkan satu kesatuan rasa yang harmonis di rongga mulut. Ful yang gurih rasanya adalah olahan dari sejenis kacang merah, kacang merah yang dihaluskan dibuat semacam bubur kental. Ful kemudian ditaburi sedikit bubuk “kamon” sejenis jinten dan garam dibubuhi juga acar tomat yang halus dengan sedikit minyak zaitun. Ful siap dicocol tamis.

Tamis sendiri dibuat dengan beberapa variasi rasa, ada yang agak manis disebut biskot, ada yang bertabur wijen, ada yang biasa agak tebal ada juga yang beraroma keju. Selain dengan ful, roti tamis juga bisa dimakan dengan keju krim dan madu, atau celup begitu saja kedalam teh manis panas. Adapun ful ketika kita pisahkan dari tamis, posisi tamis bisa kita ganti dengan “aisy” roti arab, atau roti lainnya. Tetap enak menggoyang lidah.

Roti Tamis biasanya disajikan secara hangat oleh warung yang ada, pada pagi dan sore hari. Harganya dapat dibilang murah dan terjangkau untuk semua kalangan. Dengan mengeluarkan 2 -5 riyal maka roti tamis hangat dengan bumbunya ful, dapat langsung kita santap dan menikmatinya rasanya.

Roti tamis akan lebih terasa, jika menyantapnya bersama teman disertai segelas teh manis hangat. Jadi, jika anda adalah bagian dari jamaah haji dan umroh yang berada di tanah suci, tak ada salahnya jika nantinya mencicipi makanan khas warga Arab Saudi.

(Akmal Irawan/Sindoradio/ful)

Salat di Masjid Quba', Pahalanya Sebesar Umrah

MADINAH - Pahala umrah, tak hanya bisa didapatkan di Masjid Al-Haram. Bagi jamaah yang salat sunat di Mesjid Quba’, maka pahalanya sama dengan umrah. Hadis tentang ibadah yang satu ini, sangat kuat. Bahkan, tuntunan Rasulullah SAW yang disertai terjemahan bahasa Inggris itu, dipampang secara khusus di tembok masjid.

Quba’, merupakan masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad SAW di Madinah. Masjid ini dibangun pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi oleh Nabi dan para sahabat saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Masjid yang berdiri sekira lima kilometer di bagian tenggara kota ini, disebut dalam Alquran sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa. Seperti tertuang dalam Firman Allah SWT, "Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba') sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri." (At Taubah, 108).

Diceritakan dalam hadis yang disampaikan Ibnu Umar RA, dan diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi sering berjalan kaki atau mengendarai hewan tunggangan untuk berziarah di Masjid Quba’ pada hari Sabtu, kadang Senin.

Dalam cerita lain, Rasulullah sering salat sunat di Masjid Quba’ untuk menunggu sahabat Ali bin Abu Thalib RA, yang rumahnya berada di belakang masjid ini. Dalam hadis yang riwayatkan Tarmizi, Rasulullah pernah bersabda, "Orang yang mengambil wudhu di rumahnya, dan mendirikan salat di dalamnya, ganjarannya sama dengan umrah”.

Menurut cerita, hadis ini keluar setelah warga Quba’ menyampaikan kepada Rasulullah bahwa warga Makkah sangat beruntung bisa melaksanakan umrah setiap waktu di Masjid Al-Haram. Sementara, jarak Madinah-Makkah, sangat jauh. Dengan kendaraan bus saat ini saja, bisa ditempuh lima jam perjalanan, apalagi di zaman Rasul. Dengan sabda tersebut, maka masyarakat Quba’ bisa mendapatkan pahala umrah setiap waktu dengan mendirikan salat di masjid ini.

Dalam buku yang ditulis Dr Muhamad Ilyas Abdul Ghani, Mesjid Quba’ telah direnovasi dan diperluas di masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz pada 1986. Renovasi dan peluasan ini menelan biaya sebesar 90 juta riyal (Rp21,3 miliar) yang membuat masjid ini memiliki daya tampung hingga 20 ribu jamaah.

Masjid ini memiliki 19 pintu. Dari 19 pintu itu, terdapat tiga pintu utama dan 16 pintu pendukung. Tiga pintu utama berdaun besar, dan ini menjadi tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk masuk para jamaah laki-laki, sedangkan satu pintu lainnya, sebagai pintu masuk jamaah perempuan.

Di seberang ruang utama masjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar-mengajar.  Di samping masjid tersebut, juga terdapat ratusan makam yang menurut kisah ada beberapa makam sahabat di dalamnya.
(Akmal Irawan/Sindoradio/mbs)

Kamis, 12 Mei 2011

Layanan Ibadah Haji dan Umrah Dengan Kereta Api




MediaHaji.Com, Jeddah: Komite Agung Haji Saudi, Sabtu (10/07) bertemu dan membahas peluncuran Metro Mekah, sebuah sistem kereta api baru menghubungkan tempat-tempat suci Mina, Arafat dan Muzdalifa ke kota suci.

Deputi Perdana Menteri II yang sekaligus Menteri Dalam Negeri Pangeran Naif, yang memimpin pertemuan tersebut, menyerukan agar lembaga-lembaga publik dan swasta untuk membantu penyelenggaraan haji menjadi sukses.

Tahap pertama dari metro, yang juga dikenal sebagai Mashair Railway dan dirancang untuk mengangkut 70000 peziarah dalam waktu satu jam antara tempat suci, akan diluncurkan selama musim haji tahun ini. "30% dari kapasitasnya akan digunakan selama tahun ini haji," kata seorang pejabat senior. Metro akan memiliki 20 rangkaian kereta tahun depan ketika beroperasi dengan kapasitas penuh. pada setiap rangkaian kereta terdiri 12 gerbong.

Proyek kereta api akan membawa perbaikan tentang luar biasa dalam pengangkutan jamaah haji antara tempat-tempat suci, salah satu sakit kepala utama bagi manajer Saudi haji. Kereta api baru yang akan diuji pada 1 Agustus 2010.

Pertemuan komite haji juga mendiskusikan cara terbaik untuk mengelola orang banyak pada mataf (pelaksanaan thawwaf sekitar Ka'bah Suci) pada hari-hari puncak haji dan Ramadhan. "Rapat juga mengagendakan prospek dengan menggunakan rumah sakit di tempat-tempat suci dari Mina dan Arafat sepanjang tahun ini," kata Saaed Al-Harithy, sekjen komite.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Gubernur Makkah Pangeran Khaled Al-Faisal dan 10 menteri menekankan kebutuhan untuk meningkatkan pengaturan di bandara dan pelabuhan untuk menerima peziarah umrah.

Komite memutuskan untuk memperbaiki kondisi miqats, lokasi di mana para peziarah mengenakan ihram sebelum menuju Makkah, dan membangun masjid di tempat-tempat. loker lainnya juga akan didirikan di Mekkah dan Madinah untuk digunakan oleh para peziarah dan pengunjung.

Topik lain yang dibahas adalah menghubungkan Mina baru (Mina Jadid) dengan Jembatan Jamrat, listrik dari Expressway hijrah antara Mekkah dan Madinah menggunakan energi matahari, organisasi gerakan haji untuk Jamrat untuk ritual rajam, dan penerapan sistem elektronik untuk urusan Haji dan Umrah. (Farid/ARABNEWS)

Tour Wisata Ruhani Madinah Al Munawwarah




1. Mesjid Aby Dzar al-Qifari
Imam Baihaqi didalam Shaab-Ul-Imam dan diriwayatkan oleh Abdurahman bin Auf RA. sebagaimana berikut :
Abdurahman RA. mengatakan, "Aku dan Nabi SAW. melakukan dua rakaat shalat di mesjid ini. Nabi membuat sujud dalam waktu yang sangat lama. Aku merasa cemas dan heran jika beliau telah meninggal. Karena perasaan ini aku mulai menangis diam-diam.

Ketika Nabi SAW. mengangkat kepalanya dari sujud yang panjang dan beliau mendapatkanku menangis. Beliau berkata, Ada apa denganmu Ya Rasulullah?. Aku menyampaikan kekhawatiran saya.

Nabi SAW. mengatakan kepadaku. Jibriel AS. memberitahuku bahwa siapaun yang mengirimkan salam dan shalat (salam dan shalawat) kepadaku, Allah SWT. akan mengririmkan salam dan shalawat kepada orang itu. Aku bersujud lama sekali untuk bersyukur kepada Allah SWT".

2. Mesjid Ijabah
Mesjid milik Bani Mu'awiyyah di sebelah Utara Pekuburan Baqi' al-Qorqod. Menurut Hadits Muslim, disini Rasulullah SAW. dan para sahabatnya shalat dua rakaat. Selesai shalat beliau berdoa lama sekali kemudian berpaling kepada sahabatnya seraya bersabda, yang artinya : Saya mohon kepada Allah tiga perkara, dikabulkan-Nya dua dan ditolak-Nya satu, yaitu :
1. "Saya mohon kepada-Nya, supaya ummatku tidak binasa dengan mengerjakan sunnah". Permohonan itu dikabulkan-Nya.
2. "Saya mohon kepada-Nya, supaya ummatku tidak binasa dengan karam atau tenggelam". Itupun dikabulkan-Nya.
3. "Dan saya mohon kepada-Nya supaya jangan dijadikan-Nya kejahatan dikalangan ummatku". Permohonan ini ditolak-Nya. Sekarang Mesjid ini berada di dekat Rumah Sakit al-Anshar atau dulu dikenal dengan Rumah Sakit 'Dhorbatus Syams' di Syari' Sittien.

3. Pekuburan Baqi' al-Qorqod
Komplek Pekuburan penduduk Madinah yang terletak kurang lebih 30 m ditimur Madinah. Baqi' sebenarnya berarti sebidang tanah lembut tanpa batu dan kerikil. Tanah semacam ini paling baik untuk lokasi kuburan, yaitu sejenis tanah yang jarang terdapat di Madinah. Maka dari zaman dahulu penduduk Madina memanfaatkan Baqi' sebagai tempat pemakaman umum.

Baqi' terletak di tengah-tengah kota Madina, yang sekarang memiliki luas kurang lebih 138.000 M Persegi. Di pekuburan, yang dibatasi pagar tembok dipagar yang berjeruji ini, terdapat makam lebih dari 10.000 para sahabat Nabi, yang termasuk didalam Sayyidina Utsman bin Affan RA.(khalifah ketiga). Sayyidina Abbas RA (paman Nabi) dan Sayyidina Hasan bin Ali (cucu Nabi). Juga Halimatus Sa'diyyah (ibu susuan Nabi), putri-putri Nabi : Fatimah, Ruqayyah, Ummi Kultsum, Zainab dan putra beliau Ibrahim. Isteri-isteri Nabi : Sitti Aisyah, Ummi Salamah, Juwariyah, Zainab, Sofiah, Hafsah, Mariyah Qibtiyah (kecuali Sitti Khatijah di Ma'lah dan Sitti Maimunah di Jumum).

4. Mesjid Qomamah dan Mesjid-mesjid disekitarnya
Sebuah mesjid yang terletak disebelah barat daya Mananah, Madinah kurang lebih 500 m dari Mesjid Nabawi, Mesjid ini berukuran 26 x 13 m persegi, dan tingginya 12 m, dengan 6 buah kubah dan satu menara. Pada waktu zaman Rasulullah mesjid ini merupakan alun-alun di kota Madinah. Setiap Iedul Fitri dan Iedul Adha, alun-alun ini dijadikan tempat shalat.

Pada suatu hari ketika para jamaah merasa gelisah karena Rasulullah menyampaikan khotbah yang panjang sementara terik matahari sangat menyengat, tiba-tiba datanglah mendung atau awan tebal. Jamaah kemudian menjadi tenang dan betah sampai akhir khotbah selesai. Untuk mengenang peristiwa itulah mesjid ini diberi nama Gomamah yang berarti awan atau mendung.

Disampingnya banyak mesjid-mesjid, ada Mesjid Abdu Bakar, Mesjid Ali, Mesjid Umar, Mesjid Utsman dan Mesjid Bilal yang konon dulunya adalah shaf-shaf sholat mereka ketika mengikuti sholat ied dan ististqo' (sholat minta hujan) pada Rasulullah.

5. Pasar Kurma
Pasar Kurma yang terletak di kota Madinah adalah sebuah pasar yang khusus menjual kurma, dibangun pada tahun 1982, dan tereltak kurang lebih 600 m. sebelah selatan Mesjid Nabawi. Dipasar inilah jamaah dapat mencari dan menemukan 26 macam kurma termasuk Ajwa, kurma kesayangan Rasulullah SAW.

Pasar ini dibangun oleh Pemerintah Arab Saudi untuk menampung sekaligus menjadi pasar baik bagi penduduk setempat maupun jamaah haji yang datang. Berbeda dengan Makkah yang benar-benar gersang, di Madinah terdapat banyak areal tanah subuh dan oase-oase (mata air) atau wadi yang dapat ditanami buah dan sayur-sayuran.

Kesuburan tanah ini tidak akan musnah atau berkurang tetapi akan terus bertambah dan berkembang mengimbangi pertumbuhan dan kebutuhan mukimin dan jamaah haji yang datang ke Madinah.

Tanah Madinah ini sebenarnya memiliki mu'jizat atau setidaknya 'berkah' khusus karena Rasulullah pernah memohon kepada Allah SWT. sebagaimana berikut " : "Ya Allah berilah Madinah ini dua kali berkah yang Kau berikan kepada Makkah" Jadi semua yang ada dan tumbuh di Madinah memiliki nilai keberkahan dua kali yang ada di Makkah.

Padahal Makkah sendiri sudah demikian besar berkahnya karena Allah telah mengabulkan Nabi Ibrahim AS. agar Makkah tidak kekurangan dari segala kebutuhan hidup termasuk buah-buahan. Kurma di Madinah memiliki nilai istimewa karena mutu gizinya yang sangat tinggi. Bahkan dapat digunakan untuk obat, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah "Maka semua rumah penduduk Madinah didalamnya tersedia kurma" Sehingga kurma menjadi komoditi yang laris karena semua penziarah pasti membeli untuk dibawa pulang ketanah airnya. Salah satu sabda Nabi tentang kurma adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim : "Barang siapa makan kurma Ajwa tujuh butir pada pagi hari, dia akan selamat dari racun dan guna-guna pada hari itu".

6. Saqifah Bani Saidah
Saqifah Bani Saidah adalah nama sebuah tempat bersejarah di Madinah. Bagi kebanyakan jamaah haji, nama Saqifah ini tak sekondang tempat bersejarah lainnya seperti Jabal Uhud, Mesjid Quba', Mesjid Qiblatain, kawasan bekas Perang Khandaq, Pemakaman Baqi' dll.

Rombongan jamaah haji selalu mengadakan ziarah ke tempat-tempat itu. Bahkan ada tempat favorit yang tak terkait dengan sejarah Islam, yang justru jadi tujuan extra ziarah, yaitu Medan Magnet. Saqifah Bani Saidah kalah populernya di banding tempat-tempat itu. Tapi bagi mereka yang memperhatikan pada sejarah awal politik Islam, Saqifah itu memiliki nilai sejarah tersendiri.

Disinilah, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq pertama kali diba'iah menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah SAW. di Saqifah inilah, kalangan sahabat Anshar dan Muhajirin berkumpul, membicarakan siapa pengganti Rasulullah, pada saat jenazah Nabi masih belum dimakamkan. Sehingga bagi sebagian kalangan, perbincangan politik di Saqifah itu mengundang cibiran "Urusan jenazah Nabi belum dituntaskan, kok sudah bicara kekuasaan".

Perisitiwa Saqifah itu, bagaimanapun juga menjadi cikal-bakal tumbuhnya benih perpecahan politik-teologis umat Islam, dalam dua faksi besar Sunni dan Syi'ah. Bagi kalangan Syi'ah, kesepakatan politik di Saqifah itu merupakan penyerobotan atas hak Ali bin Abi Thalib, yang dipandang sebagai pewaris dan lebih berhak atas kepemimpinan Islam (Imamah) pasca Rasulullah.

Bagi kalangan Sunni, peristiwa di Saqifah itu jadi obyek kajian menarik untuk mendiskusikan mekanisme pengangkatan pemimpin dalam islam. Saqifah itu dulunya berupa tempat mirip aula, ada pula yang kerap dipakai duduk-duduk, berteduh sambil berbincang. Rasulullah pernah shalat di tempat ini, lalu duduk dan minum air. Di utara Saqifah itu ada sumur milik Bani Saidah. Keluarga Saidah adalah sahabat Nabi yang kerap menemani Nabi duduk-duduk di Saqifah. Tempat ini masih dipertahankan, dikelola, dilestarikan dalam bentuk taman.

Posisinya di sisi Barat Daya Masjid Nabawi, berjarak sekitar 200-an meter. Berseberangan jalan dengan Perpustakaan Raja Abd. Aziz., atau di depan sebelah kanan Hotel Movenpick Anwar Madinah. Itulah satu-satunya taman di kawasan tersebut. Bentuknya empat persegi, sekitar 30 x 30 meter. Beragam tanaman, pot-pot bunga, rumput-rumputan, pohon kurma, tanaman lidah buaya dan masih ada jenis tumbuhan lain, menghijaukan kawasan tersebut. Memberikan kesegaran di tengah kegersangan. Kicauan burung aneka jenis, makin menambah riang suasana taman. Suasana demikian ini sulit di jumpai di sudut Madinah yang lain, yang lebih banyak dipenuhi dengan taman beton, gunung batu, atau padang gersang.

Tour ke Jeddah



1. Selayang Pandang Jeddah
Jeddah adalah kota pelabuhan utama di Arab Saudi, baik pelabuhan laut maupun pelabuhan udara. Terletak di tepi Laut Merah dan sebagaimana kota-kota lainnya di Arab Saudi, Jeddah memiliki Iklim Gurun. Didirikan pada tahun 647 M. oleh Khalifah Utsman bin Affan yang menyatakan Jeddah sebagai pintu gerbang masuk ke dua tanah suci Makkah dan Madinah, yang akhirnya digunakan sebagai pelabuhan untuk kepentingan jamaah haji terutama pada masa-masa perjalanan jamaah haji yang dilakukan laut, bukan melalui udara seperti sekarang ini.

Kota Jeddah memiliki area kurang lebih 2400 KM2 (menurut sejarawan) dan dengan garis pantai kurang lebih 80 KM., dan sekarang kota ini dikenal dengan sebutan "The Bride of The Red Sea" (Penganten Laut Merah), julukan ini sangatlah cocok untuk kota Jeddah jika dilihat dari letak geografisnya. Kota yang indah ini disebabkan karena pantai laut merahnya yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri dan didukung adanya air mancur tertinggi di dunia (Nafuro Malik Fahd) yang konon tingginya sekitar 312 m, dibangun pada tahun 1980 di dekat istana as-Salam Raja Fahd, dimana pada malam hari nampak seperti air perak yang muncrat ke langit.

Perkembangan kota Jeddan yang signifikan itulah yang ternyata menarik perhatian armada ' Lopo Soares de Albergaria Portugis' yang pada tahun 1516 M., bersiap-siap dan siaga untuk menjajah Jeddah. Namun pada akhir ujung abad ke - 17, Kerajaan Utsmaniyah (Ottoman) dapat mengalahkan armada Portugis ini dalam pertempuran di laut merah, dan dapat juga menaklukan Hijaz termasuk Bandar suci Makkah dan juga pelabuhan Jeddah. Maka selama kepemimpinan Kerajaan Ottoman, di Jeddah dibangun beberapa tembok sebagai benteng perlindungan dibeberapa kawasan pintu masuk sebagai mana berikut :
- Bab Syarief (tembok gerbang Syarief, kawasan balad) berada disebelah selatan
- Bab Makkah (tembok gerbang Makkah, Mecca street) berada disebelah timur
- Bab Madinah (tembok gerbang Madinah, Medina street) berada disebelah utara
- Bab Bahrul Ahmar (tembok gerbang yang langsung menghadap laut) berada disebelah barat

Kendati wilayah Jeddah dikelilingi berbagai tembok benteng pelindung, tak tertutup kemungkinan untuk tumbuh dan berkembang bahkan semakin pesat dan tidak menerima perwakilan Negara asing terutama Eropa. Masih dibawah kepemimpinan Ottoman pada tahun 1825 M., barulah membuka perwakilan Negara asing pertamanya yaitu Prancil dan Inggris, dengan sebab itu pula Jeddah mendapat julukan "Biladul Qunashil = The City of Consulaty".

Setelah kerajaan Ottoman jatuh pada tahun 1915 M. tembokpun runtuh pula, tapi sampai sekarang masih banyak ditemukan sisa-sisa artifak Turki ini, selain tembok-tembok gerbang tersebut diatas. Ketika Perang Dunia I, Syarif Makkah yang menjadi wakil kepala kerajaan Ottoman di tanah Arab, memberontak menentangnya dan menuntut satu kebebasan untuk Negara Arab yang bersatu yang meliputi Aleppo (Halab) Syiria sampai ke Aden di Yaman.

Setelah perang dunia I, pada tahun 1924 M. putera Ibnu Saud (Raja Abd. Aziz bin Abd. Rahman) yang berasal dari wilayah Najd dapat menaklukan Bandar Makkah, Bandar Madinah dan Pelabuhan Jeddah, serta dapat menggulingkan Syarief Makkah bernama Syarief Husein bin Ali Al-Hasyimi. Syarief Husein kemudian melarikan diri ke Cyprus sebelum berhijrah dan menetap di Amman Jordania, yang mana ahli warisnya kemudian didasarkan kepada keluarga Diraja Hasyimiyah Jordan yang menjadi Raja Jordan hingga kini.

Maka pada tahun 1926 M. Raja Ibnu Saud bergelar 'Sulthan Hijaz' selain galar yang sebelumnya adalah 'Sulthan Najd', pada saat itulah Jeddah sudah hilang kepentingannya dalam dunia politik di Semenanjung Arab. Daerah Hijaz pula terpecah menjadi wilayah-wilayah kecil dan Jeddah kini diletakkan didalam Propensi Makkah dengan Bandar Makkah sebagai Bandar Propensinya.

Sebagai kota dagang, Jeddah memiliki fasilitas kota yang cukup memadai. Pelabuhan lautnya merupakan pelabuhan utama yang merupakan sentral perdagangan menuju berbagai Negara khususnya Negara-negara di pesisir timur Afrika, serta Yaman. Pelabuhannya merupakan pelabuhan bebas.

Di Jeddah terdapat Bandar udara yang cukup terkenal yakni Bandara Internasional King Abdul Aziz yang memiliki tingkat kesibukan paling tinggi terutama pada musim haji. Terminal ini mempunyai seni arsitektur tersendiri dibuat dengan bentuk kemah kaum badawi. Terminal ini dapat melayani dengan baik setiap tahunnya jamaah haji yang melebihi 3 juta jamaah. Jeddah adalah merupakan sebuah Bandar Raya Arab Saudi yang terletak di pinggir Laut Merah, dengan temperatur (21.50 derajat BU - 39.1667 derajat BT). Bandar Jeddah adalah sebuah Bandar utama di Arab Saudi dan merupakan Bandar paling besar di Propensi Barat (Arab Saudi). Bandar kota Jeddah bisa pula disebut 'Kota Kosmopolitan' adalah Bandar kedua terbesar di Arab Saudi, setelah Bandar Raya Riyadh.

Jumlah penduduk Jeddah kini berjumlah 3,4 juta jiwa. Jeddah dianggap sebagai pusat perdagangan Arab Saudi dan Bandar Raya paling makmur dan paling mewah di Timur Tengah. Jeddah juga adalah pintu gerbang masuk utama ke Makkah dan Madinah. Bandar Raya Jeddah mempunyai beberapa pantai tersendiri, termasuk ; 'Durrat al-Arus, Crystal Resort, FAL, Al-Remal, Shums, Bait al-Bahar dan al-Nakheel Village'. Jeddah mempunyai temperatur suhu uda yang beragam, berbeda dengan daerah-daerah lain di Saudi Arabia, pada musim panas cukup panas, pada musim dingin suasana tetap panas karena terpengaruh oleh iklim laut merah.

Temperatur pada musim dingin berkisar sampai 15 derajat C (59 derajat F) pada malam hari, pada siang hari berkisar sampai 25 derajat C (77 derajat F). Pada musim panas temperaturnya sampai 40 derajat C (104 derajat F) pada tengah hari, dan 30 derajat C (86 derajat F) pada malam hari.

2. Pasar Balad
Kota lama al-Balad adalah mempunyai bangunan khas tersendiri dan gedung perdagangan yang bertingkat-tingkat dan dibuat mengikuti bangunan tradisional, Tetapi sekarang sudah tenggelam dengan banyaknya perkembangan modern yang mementingkan pengaruh seni barat. Akan tetapi pula belakangan ini, terdapat pergerakan yang kembali mementingkan seni khas tradisional dan terdapat usaha-usaha serius untuk memulihkan kembali bangunan-bangunan tradisional.

Bila dibandingkan Makkah, Jeddah lebih gemerlap. Tak hanya keberadaan Bandara Internasional King Abd. Aziz, dimana banyak orang dari berbagai Negara tiba di bandara ini. Pusat-pusat pertokoan juga banyak bertebaran di Jeddah selain Balad, sejumlah pusat pertokoan elit bisa ditemukan di Jeddah. Pertokoan itu menyediakan hampir segala macam barang mulai dari fashion, furniture, karpet dan sajadah, serta mobil mewah. Mobil-mobil pribadi dengan merk-merk terkenal baik dari Jepang maupun Eropa banyak berlalu lalang dan saling berkejaran di jalan-jalan.

Bila berkunjung ke Jeddah, kita bisa sekedar cuci mata melewati sejumlah pusat perbelanjaan di Balad. Juga di sepanjang jalan Tahliah, misalnya kita bisa melihat deretan toko-toko mewah. Kalangan atas menjadi langganan pertokoan tersebut. Tak perlu ragu mengunjungi pusat perbelanjaan modern yang sangat terkenal sebagai tempat belanja barang-barang konsumsi mewah. Terdiri dari pertokoan dan supermarket, Balad menawarkan berbagai jenis barang mulai dari kebutuhan harian sampai keperluan sekunder berupa perhiasan-perhiasan lux. Barang-barang yang dijual di Balad hampir 100% import.

Ada pasar yang biasa dibidik kalangan menengah saja dengan model layaknya pasar biasa. Tapi ada juga pusat perbelanjaan megah untuk golongan menengah atas yang memburu barang bermerk internasional.

Pusat perbelanjaan yang relatif lebih murah juga ada di Jeddah, yaitu Bab Syarief. Selain menjadi ikon pusat belanja, Jeddah dengan Balad nya juga terlihat lebih longgar dalam hal aturan berbusana. Seorang wanita di Jeddah bisa melepaskan cadarnya. Bagi yang non-Muslim biasanya pramugari atau perawat, bisa tetap menggunakan abaya hitam dengan rambut tergerai. Namun ada sisi lain, mungkin karena suasana yang cukup glamour, maka ruh spritualnya menjadi tiada dibandingkan dengan kota Makkah, suasana di Jeddah sangatlah berbeda.

Meski layaknya di Makkah, semua kegiatan perniagaan juga kantor di Jeddah juga akan tutup menjelang shalat wajib. Namun nuansa spiritual memang lebih terasa saat berada di Makkah. Dengan magnet spiritual bernama Masjidil Haram. Di Makkah pusat perbelanjaan memang tak sebanyak di Jeddah. Hanya Pasar Seng yang telah tiada dan beberapa pertokoan di lantai dasar hotel. Namun bukan sasaran belanja jamaah Indonesia kebanyakan. Itupun sangat ramai hanya pada musim haji.

3. Mesjid Qisos
Mesjid Qisos adalah sebuah mesjid biasa, letaknya di kawasan Balad Jeddah. Pesis di sebelah baratnya kantor sekretariat Departemen Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, yang telah di bangun baru. Posisinya persis ditengah lingkaran jalan atau bundaran, antara jalan Bagdadidyah, Jalan Syekh Al-Juffali, dan Jalan Madinah. Di Sudut jalan lain terdapat Markas Polisi Militer Jeddah, yang di depan gerbangnya terpajang meriam tua.

Dari luar Mesjid Qisos tampak biasa dan sederhana, dinding temboknya seperti bentuk jajaran genjang atau mungkin segi-tiga siku. Hampir sama sekali tidak memperlihatkan kemewahan. Mesjid ini memiliki 26 kubah, satu kubah tinggi persis diatas mihrab dan satu kubah lainnya di atas pintu masuk sebelah selatan. Arsitektur bagian dalam mesjid ternyata sangat unik. Apalagi penataan warna dan interior yang indah dengan hamparan permadani merah dan garis shaf coklat.
Sholat di mesjid ini terasa nyaman dan sejuk, padahal di luar mesjid matahari terik panas menyengat. Suara imam terdengar nyaring dan lantang. Tampaknya dinding mesjid menggunakan bahap yang kedap suara, sehingga suara dari luar nyaris tak terdengar.

Mesjid Qisos saat ini tampak sedang dilengkapi dengan pertamanan, di beberapa sudut halaman mesjid tampak pula pot-pot tanaman hias. Menurut ceerita warga setempat, nama sebenarnya Mesjid Qisos adalah Mesjid 'Syekh Ibrahim al-Juffali, nama seorang saudagar Arab Saudi terkenal yang membangun mesjid tersebut. Di depan mesjid inilah yang dipagar dan ditengah-tengahnya ada lantai tingginya sekitar 30 cm berukuran kurang lebih 6 x 6 meter dengan keramik warna putih, selalu diadakan hukum qisos, yaitu suatu pelaksanaan eksekusi hukuman mati terhadap seorang terpidana, seperti hukum pancung.

Eksekusi biasanya dialaksanakan secara terbuka, setiap selesai sholat Jum'at, tapi juga kadang-kadang pada hari yang tidak ditentukan, pada jam 10.00 pagi dan di saksikan jamaah dan masyarakat umum. Karena itulah mesjid ini kemudian dikenal sebagai Mesjid Qisos.

Mejid Qisos tak ubahnya sebuah mesjid taman kota. Apalagi di sebelah timur mesjid terdapat danau buatan, dan agak ke sebelah tenggara terdapat hotel Red-Sea. Sementara di bagian utara mesjid dihiasi sebuah menara jam, tangga air terjun buatan. Beberapa tanaman hias melingkari pedestrian road depan mesjid. Tempat parkirnya juga sangat luas.

Mesjid Qisos merupakan salah satu mesjid umum dari ratusan mesjid yang ada di Jeddah. Mesjid lainnya yang berkesan mesjid dengan tamannya, antara lain Mesjid Ibnu Saud, yang dibangun oleh Raja Saud dan Mesjid Terapung di laut merah.


4. Pekuburan Ibunda Hawa
Ejaan dan asal nama terdapat dua sejarah mengenai Jeddah, Jaddah, Juddah atau Jiddah. Yang pertama meriwayatkan bahwa nama Jeddah sebagai bermakna "tepi pantai" karena Jeddah terletak di pantai Laut Merah, yang kemudian menjadi pelabuhan terpenting di Arab Saudi. Sejarah yang lain yang lebih populer menceritakan nama Jeddah berasal dari perkataan Jaddah yang berarti "nenek".

Menurut cerita-cerita orang-orang Arab setempat, bahwa makam Ibunda Hawa adalah terdapat di Jeddah yang sekarang dijadikan pekuburan umum. Perjalanan manusia merentas waktu adalah bermula ketika Nabi Adam AS. menginjakan kakinya yang pertama kali di bumi adalah pada hari Jum'at. Hakikat sebenarnya dimana bermulanya perjalanan yang panjang ini tiadalah pernyatan yang jelas mengenai turunnya.

Pendapat dari Ibnu Hatim, mengatakan Nabi Adam AS turun ke bumi yang pertama kali dipijak adalah yang bernama dunia, tanah ini terletak diantara Makkah dan Thaif. Ibnu Umar dan Abu Hatim pula menyatakan bahwa Nabi Adam AS diturunkan di bukit Shafa dan Sitti Hawa di Marwah. Al-Hasan berkata bahwa Nabi Adam AS. adalah pertama kali turun ke bumi yaitu pada suatu tempat yang berada di India atau Srilangka sekarang dan Sitti Hawa diturunkan di Jeddah serta Iblis diterunkan di Dustimyan yaitu suatu tempat beberapa batu dari Basrah- Irak.

Selain riwayat diatas yang mengatakan bahwa Sitti Hawa di turunkan di Jeddah, tapi juga ada yang mengatakan wafatnya di makamkan juga di Jeddah, tapi riwayat yang kuat bahwa sesungguhnya Sitti Hawa di makamkan diatas Jabal Aby Qubaisy Makkah, dan Jeddah hanyalah petilasan saja ketika diturunkan dari syurga. Wallahua'lam. Tapi yang jelas Pemakaman Ibunda Hawa termasuk pemakaman favorit yang diziarahi dan dikunjungi jamaah haji dan umroh dari Indonesia, Melayu, Pakistan, India, Mesir dan Negara lainnya. Dan juga salah satu yang tak berubah adalah nama Jeddah itu sendiri sejak zaman dahulu sejak masih diduduki suku Qudo'ah sampai sekarang memang namanya Jeddah (dari Jaddatun) yang berati nenek moyang, leluhur kita.

5. Monumen Sepeda Besar
Di kawasan al-Bawadi jantung kota Jeddah, di ruas jalan "syari'sittien" terdapat monumen sepeda berukuran cukup besar. Tingginya lebih dari 20 meter, panjangnya kurang lebih 50 m. ditambah lagi disampingnya roda cadangan berukuran dengan diameter besar sekali, daerah lingkaran itu paling dikenal dengan nama "Medan ad-Darojah.

Jeddah seperti kota-kota lainnya di Arab Saudi, tidak mengenal istilah benda hidup dijadikan patung dan diletakkan di tengah-tengah kota, tapi diambilah benda-benda mati dijadikan patung lalu diletakkan di tengah-tengah bundaran jalan. Di Jeddah tidak hanya tugu sepeda besar, tapi juga tugu pesawat, tugu kapal laut, tugu mobil, tugu rotasi perputaran bulan dan bumi, tugu globalisasi dll. semua ini dibuat untuk menghiasi keindahan kota Jeddah, yang bergelar Putri Penganten Laut Merah.

Konon monumen sepeda besar tersebut banyak disebut oleh jamaah haji asia tenggara khususnya Indonesia dengan sepeda Nabi Adam (ini salah besar), ada yang mengatakan pula sepeda Bani Adam (ini bisa benar) karena yang membuat adalah kita anak cucu Adam. Menurut beberapa mukimin Indonesia yang tinggal puluhan tahun di Jeddah, seperti cerita Abu Bakar Husein adalah : "Sepeda tersebut dibuat sekitar duapuluh tahun lampau yang didatangkan dari Jakarta, bersamaan dengan ribuan sepeda lainnya, sepeda itu pemberian dari Gubernur DKI Jakarta Bapak Ali Sadikin", ternyata orang Indonesia juga yang mempopulerkannya.

Sebagai kenangan dari Pemerintah Indonesia waktu itu dengan persetujuan wali kota Jeddah setempat, maka sepeda besar itu dipajang sebagai monumen di tengah kota. Lantas siapa yang pertama kali memberinya nama sepeda Nabi Adam?. Kita tidak tahu, kemungkinan karena melihat ukurannya yang besar lalu kemudian ada yang menyebutnya sebagai sepeda Nabi Adam, dan sampai sekarang nama tersebut populer di kalangan jamaah haji Indonesia.

Mungkin merasa terheran dengan membayangkan bagaimana besarnya pemiliknya. Bayangkan saja sepedanya saja besar sekali, maka rasanya sulit diterima oleh akal dan bagaimana pula besarnya sosok Nabi Adam?, ada-ada saja kawan gaed menggelabui jamaah.

Ada cerita lain pula dengan sepeda besar itu, bahwa pernah salah satu penjelajah separoh dunia berasal dari India menjelajahi dengan sepeda pancal biasa, sesampainya di kota Jeddah diterima oleh wali kota setempat, lau untuk menghormati dan mendedikasikannya, wali kita tersebut membangun sepeda itu dengan bentuk besar. Wallahu A'lam.

Yang jelas, janganlah kita para gaed menerangkan bahwa itu sepedanya Nabi Adam AS., dan jangan pula menerangkan peta bola dunia (globe) yang berada dekat airport, dikatakan kelerengnya Nabi Adam, dan juga jangan menerangkan pula monumen mobil-mobil kecil yang ada didekat pantai laut merah dikatakan mobilnya Abu Nawas, serta jangan pula menerangkan kapal kecil dekat istana raja kapalnya Nabi Nuh AS. dll. agar kitanya tidak tertindak pada hadits Nabi yang berbunyi "Man kadzdzaba 'alayya muta'ammidan fal-yatabawwa' maq'adahu minannar". Naudzubillah, camkan kawan...!

6. Laut Merah
Laut Merah (bahrul-ahmar) adalah sebuah teluk disebelah barat Jazirah Arab yang memisahkan benua Asia dengan benua Afrika. Jalur ke laut di selatan melewati Babul Mandib dan Teluk Aden, sedangkan di utara terdapat semenanjung Sinai dan Terusan Suez. Laut ini di tempat yang terlebar berjarak 300 km. dan panjangnya 1.900 km. dengan titik terdalam 2.500 m.,

Laut Merah juga menjadi habitat bagi berbagai makhluk air dan koral. Walaupun sering dikaitkan dengan berbagai cerita di masa lampau, namun sampai abad ke-20, orang Eropa menyebutnya 'Teluk Arab', sedangkan Herodotus dan Ptolemeus menyebutnya 'Arabicus Sinus'. Air Laut Merah sendiri sebenarnya tidak beda dengan air laut yang lain.

Penjelasan-penjelasan ilmiah menyuebutkan bahwa warna merah di permukaan muncul akibat Trichodesmium erythraeum yang berkembang. Ada juga yang menjelaskan bahwa namanya berasal dari gunung kaya mineral sekitarnya yang berwarna merah. Laut ini muncul karena pemisahan Jazirah Arab dari benua Afrika yang dimulai sekitar 30 juta tahun yang lalu dan masih berlanjut sampai sekarang.

Suhu permukaan laut selalu konstan sekitar 21-25 derajat C. dengan jarak penglihatan 200 m. Namun, sering terjadi angin kencang dan arus lokal yang membingungkan.

Kota-kota yang terdapat di pesisir Laut Merah antara lain : Jeddah, Sharm el-Syekh, Pelabuhan Sudan dan Eilat. Pada tahun 1950-an, Hans Haas menemukan Laut Merah sebagai tempat menyelam dan kemudian oleh Jaques-Y ves Costeau.

Negara-negara yang berbatasan dengan Laut Merah adalah : Pesisir Utara ; - Mesir Pesisir Barat ; - Sudan - Israel - Mesir - Yordania Pesisir Timur ; - Arab Saudi Pesisir Selatan ; - Djibouti - Yaman - Eriteria - Somalia


7. Mesjid Terapung
Mesjid Terapung atau dikenal pula dengan Mesjid Rahmah atau orang arab pula menganalnya dengan Mesjid Jami' at-Taubah, adalah tidaklah terapung sebagaimana namanya, namun terletak di bibir pantai laut merah Jeddah, dan bila laut pasang maka mesjid pun akan dikelilingi air laut, layaknya seperti mesjid yang terapung, namun apabila air laut lagi surut, tampaklah pondasi-pondasi yang menyangga mesjid itu.

Memang orang Indonesia sangat kratif memberi nama tempat yang dikunjungi, dari pasar seng yang telah tiada sampai ke mesjid terapung, tapi entah sejak kapan orang Indonesia kerap memanggilnya demikian mesjid terapung, bisa jadi karena konstruksi mesjid yang unik dimana bangunan mesjid itu di bangun menjorok ke laut, juga hampir sama sekali tidak memperlihatkan kemewahan, mesjid ini hanya memiliki satu kubah berwarna biru dan satu menara berwarna putih. Arsitektur bagian dalam mesjid ternyata sangat unik juga, termasuk dalam penataan interior yang sangat indah nan asri dengan hamparan permadani lembut berwarna biru keputih-putihan dan garis shaf sholat hijau dan beberapa kaligrafi arab melekat didinding dan langit-langit mesjid yang sangat menakjubkan.

Di sekitar Mesjid Terapung adalah sebuah pantai yang kini disulap menjadi taman rekreasi seperti Taman Impian Jaya Ancol Jakarta. Pantai laut merah, bukanlah pantai berpasir putih. Tapi di pantai itu wisatawan,jamaah haji dan umroh bisa menyaksikan matahari saat tenggelam (sun-set) dan saat matahari terbit (sun-rise), di mesjid itu pula akan menemukan bahwa perpaduan antara keindahan warna laut yang biru serta pantulan cahaya matahari dari permukaan air yang mengelilinginya, akan menimbulkan kedamaian apalagi ditambah angin yang sepoi-sepoi dari arah laut, maka perasaan hati akan kebesaran Allah YME. akan semakin kental.

Tidak terlalu banyak di dunia Mesjid yang serupa dengan Mesjid Terapung itu, kecuali Mesjid Terapung yang ada di Kuala Terenggano Malaysia bernama Mesjid Tengku Tengah Zaharah, lokasi mesjid ini datas muara sunga Ibai yang dibangun tahun 1991 dan selesai tahun 1994. Dan juga ada Mesjid Terapung di Dubai - Emirat.


8. Indahnya Teluk Abhur
Di Jeddah tidak banyak pilihan untuk rekreasi selain mall dan laut, mengapa kita perlu mengadakan wisata ke Teluk Abhur dan Kota Jeddah walau agak jauh dari Makkah?, ini dikarenakan tempat yang jauh lebih exited bagi kita, mungkin ini salah satu alasan bagi kita, khususnya ibu-ibu haji yang lebih konsumtif perginya dari mall ke mall selepas haji atau umroh.

Kita salut dengan pemerintah Saudi, yang banyak memberi tempat masyarakat berlibut secara gratis, kita bandingkan dengan tempat hiburan ditanah air kita tercinta, hampi r semuanya seba bayar (ancol, dufan, tmii dll).

Sepanjang laut merah di Jeddah yang membentang dari downtown balad hingga teluk abhur kurang lebih 30 km. sengaja dibuat untuk masyarakat Saudi, tourist asing, jamaah haji dan umroh serta mukimin yang sengaja berlibur sebagai week-end nya hari kamis dan jum'at atau hari libur lainnya, tanpa di pungut biaya sepersenpun, hanya sebagian kecil yang dikuasai oleh sewasta untuk bangunan hotel dan restauran ini pun harus bayar.

Teluk Abhur lebih elok nan cantik, menawan, mempesona serta mengagumkan karena kita bisa melihat dari ujung ke ujung indahnya laut dengan beraneka macam permainan laksana dunia fantasi, taman impian dll., bentuknya menyerupai danau. Bagi yang mau sewa perahu boat sekedar muter-muter (pusing-pusing kata orang Malaysia) lengkap dengan nahkodanya, satu jam nya 300 real cukup untuk 5 orang.

Jetsky juga banyak untuk disewakan, tetapi banyak yang dimiliki secara pribadi tapi ongkos parkirnya perbulan yang mahal. Orang-orang kaya di Abhur banyak memiliki yacht/jetsky.

Teluk Abhur tempatnya lebih aman dari pada Jeddah karena dijaga oleh Safety Quard, kita bisa leluasa mandi berenang sebatas pembatas yang telah ditentukan disana, perempuan pun boleh berenang tapi harus memakai abaya dan cadar, kalau ingin mandi tanpa abaya dan cadar dengan memakai pakaian renang boleh saja, teapi harus memasuki ke tempat private yang bayar.

Disalah satu sudut terdapat istana keluarga besar Bin Ladien yang sangat mewah dan besar seperti dalam dongeng-dongeng 1001 malam, dan beberapa vila-vila megah yanbg dimiliki oleh para amir, para konglomerat Jeddah. Di setiap bunderan Abhur dan pesisirnya berikut dengan taman-tamannya yang bertaburan rerumputan dan bebungaan, penuh dengan orang yang sedang piknik dengan menggelar karpet, tikar dan meletakkan kursi lipat sambil makan-makan bersama keluarga.

Banyak juga yang BBQ dengan membawa semua peralatan dari rumah, bisa dipastikan mereka-mereka itu dari Libanon, Syria dan Negara-negara teluk lainnya. Kalau keluarga Saudi lebih senang membawa bekal dari rumah atau beli di restauran.

Lebih Nyaman Beriibadah Sendiri




Untuk bisa menghayati ibadah haji, persiapan jamaah harus matang. Selain soal fisik, makan, pakaian, bekal, penginapan, dan lain-lain, persiapan ibadah juga harus mantap. Banyak pembimbing haji ketika di Tanah Air meninabobokkan jamaah dengan kata-kata ‘Bapak Ibu, kalau tidak hafal doa-doa jangan khawatir. Nanti di sana dibimbing, tinggal mengikuti saja.” Pesan-pesan seperti ini sering membuai jamaah. Akibatnya banyak yang berangkat hanya dengan bekal mengandalkan pembimbing. Pada kenyataannya pembimbing haji tak selalu bisa jadi andalan di lapangan. Banyak kegiatan yang akhirnya dilakukan secara mandiri oleh jamaah haji. Saat tawaf misalnya, sulit untuk tetap berjalan dengan rombongan besar. Dengan kelompok kecil 10 orang saja, sudah hampir pasti bercerai–berai di tengah kerumunan ratusan ribu orang. Jika jamaah tak menyiapkan diri, akan kebingungan menyelesaikan ibadah. Banyak terjadi jamaah yang terlepas dari rombongan saat tawaf akhirnya pulang ke penginapan sebelum menyelesaikan sa’i. Ada juga yang selesai sa’i sudah pulang sebelum tahalul. Kalaupun masih bisa tetap bersama pembimbing, biasanya hanya pada saat tawaf qudum atau tawaf ifadah saja. Setelah itu biasanya jamaah sudah harus berjalan sendiri-sendiri. Jamaah yang menyiapkan diri dengan pengetahuan ibadah akan lebih mungkin bisa menikmati berhaji. Mandiri, tak tergantung pembimbing, tak tergantung rombongan. Jika saat tawaf terlepas dari rombongan, bisa tetap melanjutkan ibadah sendiri. Bahkan dengan sendiri atau kelompok kecil, ibadah akan terasa lebih khusyuk. Tawaf dengan rombongan besar akan cenderung mengganggu jamaah lainnya. Apalagi jamaah Indonesia akan bertemu dengan jamaah dari Turki, Afrika, atau Iran yang juga sering dalam rombongan besar. Jika rombongan ditabrak oleh jamaah Turki yang berbadan besar-besar sudah pasti kocar-kacir. Karena itu sebaiknya sejak dari Tanah Suci jamaah sudah menyiapkan diri untuk bisa melaksanakan semua ritual haji sendiri. Paling tidak tak terlalu menggantungkan diri pada pembimbing. Pelajari sampai paham benar tata cara pelaksanaan ibadah haji. Hafalkan doa-doa. Kalau tak bisa doa yang panjang-panjang, yang pendek-pendek juga boleh. Usahakan doa itu hafal di luar kepala sehingga saat tawaf atau sai tidak perlu membuka catatan. Dalam kerumunan ratusan ribu orang, berdesak-desakan dan panas, membaca catatan sambil berjalan akan tidak nyaman. Departemen Agama menyediakan buku doa kecil tebal dengan gantungan di leher. Di lapangan menggunakannya tak juga praktis. Sering kali tali itu tertarik atau menjerat jamaah lain sehingga mengganggu. Setiap waktu luang bisa digunakan untuk memantapkan tata cara dan doa-doa haji. Di asrama, di atas pesawat, di bandara, di bus gunakan waktu untuk membuka buku-buku panduan haji. Bahkan saat-saat menjengkelkan seperti ketika pesawat terlambat, bus belum datang, menunggu pemeriksaan, lebih baik digunakan untuk menghafal doa daripada menggerutu dan menyesali keadaan. Departemen Agama menyediakan buku-buku panduan haji yang lengkap. Selain itu jamaah bisa membeli buku-buku panduan haji yang banyak dijual di toko-toko haji. Selain panduan ibadah, berguna juga bila jamaah membaca-baca buku tentang Makkah, Madinah, dan tempat-tempat penting di Tanah Suci. Selain tawaf dan sai, ziarah ke makan Rasul, ke Raudhah, dan melempar jumrah bisa dilakukan tanpa harus menunggu pembimbing. Kalaupun dilakukan berkelompok, buat kecil saja. Kini banyak jamaah yang berangkat dengan sebutan haji mandiri. Mereka ini berangkat ke Tanah Suci dengan tidak bergabung pada Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Dari tahun ke tahun jumlah haji mandiri mengalami peningkatan. Jamaah haji mandiri umumnya lebih percaya diri walaupun tanpa pembimbing khusus KBIH. Mereka mengurus sendiri urusannya, tidak tergantung pada orang lain. Selain lebih nyaman, karena bisa menentukan sendiri apa yang dimaui, mereka juga tak dibebani pungutan macam-macam dari KBIH

Melipatgandakan Ibadah, Melipatgandakan Pahala



MediaHaji.Com, Makkah. Menunaikan ibadah haji merupakan kesempatan emas bagi seorang muslim. Saat menjadi tamu Allah SWT. harus mampu memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya dengan melakukan ibadah semaksimal mungkin. Baik saat di Makkah maupun Madinah. Sebab, setiap ibadah yang dilakukan selama di tanah suci memiliki pahala yang sangat besar.

Untuk itu harus pandai mengatur waktu. "Selama berada di tanah suci, jemaah harus memaksimalkan ibadah. Karena setiap amal ibadah yang kita lakukan akan mendapatkan pahala yang sangat besar", ujar Ustadz Yusuf Mansur, Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Qur'an Wisata Hati.

Dianjurkan memperbanyak sedekah maupun infak karena balasan Allah SWT. berlipat ganda. Selain itu juga untuk meraih kemabruran ibadah haji. Menurut Ustadz Yusuf tanah suci merupakan ladang paling subur mendapatkan imbalan ibadan dan sedekah. "Ketika kita mengeluarkan 1000 pasti Allah membalas minimal 100 ribu kali lipat dibandingkan di tempat yang lain", ujar Ust. Yusuf Mansur.

Pendiri pengajian Wisata Hati ini menganjurkan jemaah haji agar banyak melakukan infak dan sedekah selama ibadah haji. Kendati tidak tersedia kotak infak di Masjidil Haram, maka sedekah bisa dilakukan kepada orang yang membutuhkan di Makkah. Selain itu juga untuk para pelajar yang banyak menjadi tenaga pembimbing di Makkah maupun Madinah. Kebiasaan melakukan sedekah di tanah suci ini biasanya akan melekat setelah kembali ke tanah air.

Jemaah haji menjadi tidak lagi ragu untuk melakukan sedekah maupun menafkahkan harta yang dimilikinya ke mereka yang membutuhkan saat sudah kembali berada dilingkungan tempat tinggalnya. "Dan ketika orang bersedekah di sana akan dirasakan sendiri oleh orang yang bersangkutan pasti Allah SWT. akan mengganti setelah pulang ke tanah air", papar dia.

Pandai mengatur waktu agar lincah menjalankan ibadah selama di tanah suci juga diungkapkan oleh H. Ahmad Kosasih, MAg. Pembimbing jemaah haji dan umroh dari PT Saudi Wisata Travel ini mengingatkan bahwa keberadaan jemaah di tanah suci adalah fokus untuk ibadah karena pahala yang berlipat ganda.

"Jadi, satu rakaat kita shalat di Masjid Nabawi sama dengan seribu rakaat di masjid yang lain, sedang di Masjid Haram 100 ribu kali", jelas H. Ahmad Kosasih.
Besarnya pahala yang dijanjikan Allah SWT. itulah yang harus di raih oleh jemaah haji untuk menjalankan berbagai ibadah. Bukan hanya shalat, namun juga mengisi waktu selama di tanah suci dengan membaca al-Qur'an, infak dan sedekah, membantu orang lain dan sebagainya. "Jadi selama kurang lebih satu bulan jemaah haji harus memanfaatkan untuk beribadah semaksimal mungkin", papar H. Ahmad Kosasih.

Sayang, menurut Ustadz Yususf Mansur maupun H. Ahmad Kosasih, jemaah haji Indonesia tergolong masih kurang memaksimalkan kesempatan beribadah selama di tanah suci. "Banyak jemaah haji kita kurang faham bentuk ibadah yang harus dikerjakan. Selama di sana misalnya hanya melaksanakan shalat lima waktu saja ditambah qabliyah dan ba'diyah. Padahal yang namanya ibadah di sana, dia bisa mengisi satu hari penuh dengan ibadah", ujuar H. Ahmad Kosasih.

Kosasih mencoba memaparkan jadwal agar bisa maksimal memanfaatkan waktu di Masjidil Haram. Selesai subuh dilanjutkan tadarus al-Qur'an sampai matahari terbit. Kemudian sholat Dhuha. Usai Dhuha sarapan pagi dan istirahat. Menjelang Dhuhur kembali ke Masjidil Haram, sholat Qobliyah Dhuihur - ba'diyah. Selanjutnya makan siang dan istirahat. Menjelang Ashar kembali ke Masjidil Haram. Waktu Ashar hingga Maghrib bisa dimanfaatkan untuk membaca al-Qur'an, thawaf sunnat, bershalawat maupun duduk memandang Ka'bah serta i'tikaf.

Kegiatan dilanjutkan shalat Maghrib. Waktu Maghrib hingga Isya' bisa melakukan sholat hingga Isya' bisa melakukan sholat Awwabin, minimal dua rakaat hingga maksimal 20 rakaat. Kemudian shalat fardhu Isya'. Selesai Isya' bisa melakukan sholat witir jika tak ingin istirahat di pemondokan. Tengah malam datang kembali untuk sholat qiyaamul lail, tahajjud, hajat istiqkhoroh dan sebagainya.

"Jadi banyak ibadah yang bisa dilakukan di tanah suci", ujar Ahmad Kosasih. Berdasarkan hitungan H. Ahmad Kosasih jumlah rakaat shalat sunnat sehari di Masjidil Haram bisa mencapai 100 rakaat. Bahkan masih bisa ditambah lagi dengan shalat sunnat Mutlaq maupun shalat jenazah. Sebab banyak jemaah yang meninggal dunia.

"Bayangkan, seumur hidup mungkin kita belum pernah melaksanakan shalat jenazah sampai ribuan orang. Tapi, di Masjidil Haram kita bisa. Satu kali kita melaksanakan shalat jenazah, berarti sudah 100 ribu kali bandingkan dengan di masjid lain", ungkap H. Ahmad Kosasih. Menurut H. Ahmad Kosasih agar bisa memaksimalkan ibadah, maka jemaah haji harus menguasai ilmu-ilmu ibadah.

Berdasarkan pengamatannya, masih banyak jemaah yang belum memahami shalat awabin, shalat tasbih serta shalat-shalat sunnat lainnya. Selain itu semua yang juga teramat penting adalah menguasai manasik haji. "Jangan ikut-ikutan mengandalkan pembimbing. Rugi nanti kalau tidak melakukan manasik sendiri". papar Ahmad Kosasih. Penguasaan manasik haji maupun ilmu ibadah adalah merupakan bekal utama bagi jemaah haji meraih kemabruran.

Seperti juga diamini oleh Ust. H. A Saefullah MA, untuk meraih kemabruran juga diperlukan amalan ibadah sunnat, melakukan sedekah, bertobat, meminta maaf kepada orang tua maupun sahabat. Semua dilakukan dalam keadaan suci di tanah suci pula. "Allah SWT. itu Maha Suci. Maka sebelum menghadap yang Maha Suci kita berwudhu', sebelum wudhu' kita diramadhankan", ujar salah seorang assatidz Majelis Zikir az-Zikra ini.

Le Grand Voyage, Perjalanan Haji Agung




MediaHaji.Com, Jakarta - Sebuah film menarik berjudul ‘Le Grand Voyage” atau Ar-Rihlatul Akbar atau Perjalanan Agung. Dibintangi oleh Nicolas Cazale, Mohamed Majd dan Jacky Nercessian. Film ini mengisahkan perjalanan seorang ayah bersama anak laki-lakinya menuju Mekkah yang penuh makna kehidupan. reda diminta menemani ayahnya untuk mengantar ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Namun sang ayah telah berniat melakukan perjalanan ini tidak menggunakan pesawat, melainkan menggunakan mobil. Jarak yang mereka tempuh kira-kira 5000 km antara Perancis - Mekkah. Di tengah perjalanannya, Reda bertanya kepada ayahnya, “Kenapa Ayah tidak naik pesawat untuk naik haji? Lebih praktis. Si Ayah menjawab,”Saat air laut naik ke langit, rasa asinnya hilang dan murni kembali. Air laut menguap naik ke awan. Saat menguap, ia menjadi tawar.” Itulah sebabnya lebih baiknaik haji berjalan kaki daripada naik kuda. Lebih baik naik kuda daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil daripada naik kapal laut. Lebih baik naik kapal laut daripada naik pesawat.” Ketika Ayah kecil, almarhum kakekmu berangkat naik keledai. Ayah tak pernah melupakan hari itu. Kakekmu lelaki pemberani. Tiap hari Ayah naik ke atas bukit, disana Ayah bisa lihat cakrawala. Ayah ingin jadi orang pertama yang melihatnya kembali.”

Perjalanan Ayah dan anak sejauh 5000 km ini bukanlah tanpa halangan dan tantangan. Dari Perancis menuju Italia terus ke Slovenia, Kroasia, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania, dan akhirnya sampai ke Arab Saudi. Perjalanan ini, selain memerlukan stamina yang tangguh, juga dipenuhi berbagai macam cobaan seperti konflik internal antara ayah dan anak, kehilangan uang di tengah perjalanan, tertimbun salju dan lain sebagainya.

Namun perjalanan sesungguhnya bukanlah perjalanan sang ayah yang menunaikan ibadah haji. Perjalanan sesungguhnya adalah perjalanan sang anak yang menemukan hakikat hidup selama menempuh perjalanan ini. Reda, si anak bukanlah pemuda yang spiritual dan tugas mengantar ayahnya inisemula karena terpaksa disebabkan oleh karena ayahnya tidak bisa menyetir sedangkan kakanya dicabut SIMnya. Reda masih SMU dan punya pacar sehingga sepanjang perjalanan selalu teringat kekasihnya. Selain itu, Reda sangat egois dan suka kemewahan.

Karena perjalanan inilah, Reda mendapatkan perjalanan rohani yang maha dasyhat. Dari setiap konflik dengan ayahnya, halangan dan tantangan yang secara bersama mampu dihadapi hingga sampai ke tempat tujuan. Akhirnya Reda pun harus menghadapi kenyataan Ayahnya meninggal di tanah suci.

Perjalanan Agung sang Ayah ini telah memberikan perjalanan spiritual tersendiri bagi sang Anak. (WildanHasan)

Mabrur, Meski Tanpa Haji

Tersebutlah sebuah kisah sufi bahwa seseorang yang menunaikan ibadah haji tertidur lelap ketika wukuf di tengah teriknya matahari di padah Arafah. Dalam tidurnya ia bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Perasaan berjumpa dengan Rasulullah ini memberikan harapan dalam dirinya bahwa hajinya telah menjadi haji mabrur.

Namun untuk kepastian, ia meberanikan diri bertanya kepada Rasulullah SAW. : "Siapakan di antara mereka yang diterima hajinya sebagai haji mabrur wahai Rasulullah". Rasulullah SAW seraya menarik napas dalam-dalam, menjawab : "Tak seorangpun dari mereka yang diterima hajinya, kecuali seorang tukang cukur tetanggamu". Serta merta sang haji tersebut kagum dan terkejut. Betapa tidak, ia tahu persis bahwa tetangganya itu adalah orang miskin, dan terlebih lagi bahwa tahun ini ia tidak menunaikan ibadah haji.

Dengan digeluti perasaan sedih, dadanya serasa sesak, ia terbangun dari tidurnya. Sepanjang melakukan wukuf sang haji tersebut menginstropeksi diri, memikirkan dalam-dalam apa arti di balik mimpi tersebut. Sekembali dari Makkah, ia segera menemui tetangganya si tukang cukur. Ia menceritakan segala pengalamannya selama menunaikan ibadah haji. Tapi cerita yang paling ingin disampaikan adalah perihal diri si tukang cukur itu sendiri.

Dengan sikap keheranan, ia pun bertanya : "Amalan apakah yang telah Anda lakukan sehingga Anda dianggap telah melakukan haji mabrur". Tetangganya pun dengan tenang bercampur haru bercerita bahwa sebenarnya, ia telah lama bercita-cita untuk dapat menunaikan ibadah haji. Dan telah bertahun-tahun pula ia mengumpulkan biaya. Namun ketika biaya telah cukup, dan tibalah pula masa untuk berhaji, tiba-tiba seorang anak yatim tetangganya ditimpa musibah yang hampir merenggut jiwanya. Maka si tukang cukur tersebut menyumbangkan hampir keseluruhan biaya yang telah bertahun-tahun dikumpulkan itu untuk membiayai anak yatim tersebut, sehingga ia gagal meenunaikan ibadah haji.

Kisah ini membuka mata kita, bahwa ternya kita sering salah langkah dalam upaya mencari ridho Allah. Ridho-Nya terkadang diburu dengan semangat egoisme yang berlebihan dan tanpa disadari justru bertolak belakang dengan keridhaan-Nya. Dengan kata lain, betapa ibadah-ibadah kita sering ternoda oleh lumpur kepicikan egoisme pelakunya, jauh dari nilai-nilai 'kasih-sayang' (rahmatan lil-'alamin).

Tidakkah terpikirkan oleh mereka yang berhaji, khususnya yang berhaji sunnah (berhaji lebih dari satu kali), akan nasib berjuta-juta anak yatim akibat 'musibah' perekonomian saat ini?. Akibat krisis ini telah berjuta manusia yang kehilangan 'induk' (pegangan) dalam hidupnya. Atau belumkah masanya kaum Muslimin untuk meletakkan prioritas-prioritas dalam kehidupannya sebagai ummat?.

Kalaulah misalnya, dari sekian ribu Muslim yang berhaji sunnah (lebih dari sekali) ditunda melakukannya, dan uang ongkos haji tersebut dimanfaatkan untuk biaya sekolah anak-anak ummat ini, betapa cerahnya masa depan kita.

Masalahnya sekali lagi, sampai dimana pengaruh ibadah-ibadah yang kita lakukan dalam kehidupan sosial kita?. Mungkin para pendai perlu kembali mensosialisasikan kandungan al-Qur'an surah al-Maa'uun yang sarat misi sosial.

Abu Bakar ditanya tentang haji mabrur, beliau menjawab : "Lihatlah jikalau Anda telah kembali ke Madinah". Jawaban ini membuktikan bahwa haji mabrur hanya dapat diindentifikasi pada saat pelaku haji berada di kampung halaman masing-masing. Sampai dimana 'predikat haji' tersebut mampu mendongkrak kesalehan, baik dalam kehidupan fardi maupun kehidupan jama'inya.

Semoga haji kita dapat merubah moralitas kita menuju pada tingkatan yang lebih ilahiyah sifatnya tanpa mengurangi rasa kepedulian terhadap 'mas'uliyah ijtima'iyah' (tanggung-jawab sosial) kita terhadap sesama. Dengan kata lain, semoga ibadah haji kita dapat mengantar pelakunya menjadi insan-insan taqi (bertakwa), tidak saja pada tataran individual namun juga pada tataran sosialnya. Wallahu a'lam bish shawab...

(Petikan dari sebagian khutbah wukuf 9 dzulhijjah 1430H... yang disampaikan oleh KH Ahmad Kosasih, amien)

Sabtu, 12 Maret 2011

Pasar Kurma Terbesar di Arab Saudi


Kurma dan air zam-zam selalu identik dengan oleh-oleh ibadah haji. Kurma yang paling terkenal adalah kurma Madinah. Selain karena bentuknya lebih besar, daging buahnya kenyal dan kering, menambah atribut rasa manis kurma Madinah. Seperti namanya, kurma ini memang berasal dari Madinah, kota produsen kurma terbesar di Arab Saudi.

Hampir bisa dipastikan, setiap jamaah haji dari segala penjuru dunia yang bertandang ke Tanah Suci, akan menjinjing buah cokelat kehitam-hitaman ini sebagai salah satu oleh-oleh mereka.Tak sulit mendapatkan kurma Madinah. Saat berada di Madinah, pergi saja ke Pasar Kurma (Madinah Dates Market ). Letak pasar ini tepat di pusat kota, arah selatan Masjid Nabawi. Hanya berjarak sekitar setengah kilometer dari masjid para nabi, Pasar Kurma berada di kawasan bernama Qurban.

Dari Masjid Nabawi, Anda cukup berjalan ke arah Kubah Hijau dari arah Baqi. Bila wajah Anda sudah menghadap ke arah Kubah Hijau dan membelakangi Baqi, berjalanlah lurus ke depan. Tak berapa lama, Anda akan melihat Pasar Kurma di sisi sebelah kanan. Pasar ini cukup luas dengan outlet-outlet kurma berjajar. Dijamin tak kesulitan menemukan pasar ini.

Pasar Kurma Madinah yang dibangun pada 1982 oleh Pemerintah Arab Saudi, buka mulai pukul 08.00 sampai pukul 22.00 waktu setempat. Anda bisa membeli aneka kurma di sini, baik kurma murni maupun olahan. Ada puluhan jenis. Sebut saja cokelat isi kurma, kurma isi kacang, kismis, biskuit selai kurma, dan tentunya (buah) kurma Madinah yang terkenal.

Layaknya di pasar-pasar tradisional, para pedagang Pasar Kurma Madinah juga bersaing dalam urusan memberikan harga kepada para calon pembeli. Kejelian memilih aneka jajanan kurma dan kemahiran menawar harga menjadi kunci utama bertransaksi di pasar ini. Tak jarang ada cerita seorang pembeli mendapatkan kurma dengan harga lebih murah dibandingkan pembeli lainnya. Padahal, jumlah makanan dan tempat membelinya sama.

Khusus untuk kurma Madinah, setidaknya ada tiga klasifikasi yang sudah dikenal, yaitu Ajwa, Ambhar, dan Safawi. Kurma Ajwa adalah kurma yang paling diminati. Tak heran, kurma jenis inilah yang paling banyak terdapat di Pasar Kurma.

Bukan rasa ataupun bentuk yang menjadikan Kurma Ajwa diincar para pembeli, melainkan sebuah hadis Rasulullah SAW yang berbunyi: ””Barang siapa di waktu pagi makan tujuh butir Kurma Ajwa, pada hari itu ia tidak akan kena racun maupun sihir.””Hadis yang terdapat dalam kumpulan Shahih Bukhari inilah yang membuat kurma berwarna agak kehitaman dan berkulit keriput tersebut menjadi incaran para jamaah.

Mengikuti teori ekonomi, Kurma Ajwa merupakan kurma dengan harga paling mahal dibandingkan kurma jenis lainnya. Menyesuaikan ukuran buah, Kurma Ajwa dibanderol dengan harga 60 riyal sampai 80 riyal untuk satu kilogramnya.

Terkait kualitas buah, di bawah Kurma Ajwa, ada jenis Kurma Ambhar. Untuk satu kilogram kurma ini, pembeli harus mengeluarkan kocek antara 35 riyal sampai 40 riyal, tergantung besar buahnya. Kalau kurma-kurma jenis lain bisa dicicipi sebelum membeli, jangan harap Anda bisa mencicipi Kurma Ajwa dan Kurma Ambhar.

Para pedagang di sana kebanyakan menyatakan haram untuk mencicipi dua jenis kurma terbaik tersebut, kecuali Anda memang benar-benar ingin membelinya. Sedangkan untuk jenis kurma lainnya, jamaah bisa membeli dengan cukup murah.

Hal yang sudah pasti, bila Anda ingin membeli kurma sebagai oleh-oleh, belilah di Madinah. Alasannya tak lain karena kurma dijual lebih murah di Madinah daripada di Makkah. Selisih harga untuk satu kilogram kurma di Madinah dengan di Makkah bisa mencapai setengah kalinya. Contoh saja untuk Kurma Ajwa ukuran kecil dengan harga sekitar 60 riyal di Madinah, maka di Makkah paling murah Anda harus mengeluarkan uang 100 riyal per kilogramnya.
Contoh lain adalah Kurma Safawi yang di Madinah hanya seharga 15 riyal per kilogram, namun di Makkah dijual dengan harga paling murah 20 riyal. ade/yus/yto

Minggu, 21 November 2010

Tak Mau Kesasar, Ikuti Trik Jamaah Turki


Madinah–Jumlah jamaah yang tersesat di Masjid Nabawi kian hari kian bertambah. Hingga Ahad(17/10/2010) pagi, sudah terdapat sekira 45 orang jamaah haji Indonesia yang tersesat. Lantas bagaimanakah sebaiknya agar jamaah terhindar dari kebingungan saat kembali ke pemondokan? Rasanya, ciri khas jamaah Turki patut dicontoh.

Seperti pantauan okezone di sekitar Masjid Nabawi, Sabtu 16 Oktober petang, sejumlah jamaah haji asal Turki selalu mempunyai ciri khas tersendiri. Baik dari seragam maupun sikap dari kekompakan rombongan mereka. Jamaah haji asal Turki selalu rombongan saat ingin menuju Masjid Nabawi. Jumlahnya pun lumayan banyak, mungkin lebih dari 20-an orang.

Seragam jamaah Turki pun paling berbeda dengan jamaah yang lain. Pink muda. Tak hanya seragam, biasanya ketua rombongan jamaah selalu membawa simbol apakah itu bendera atau alat penanda bahgi jamaah yang akan berkumpul usai salat berjamaah. Tak pernah dilihat jamaah Turki yang pergi seorang diri. Ini berbeda dengan jamaah haji asal Indonesia yang terkadang pergi hanya dengan teman atau suami/istri.

Jamaah Turki juga selalu datang lebih awal dari waktu salat. Satu yang terpenting adalah jamaah disarankan mempunyai tempat bertemu di sekitar Masjid Nabawi jika ada rombongan yang tersesat.

Baju batik yang akan dijadikan seragam jamaah haji Indonesia pada tahun 2011 mendatang setidaknya sedikit membantu para jamaah untuk membedakan rombongan jamaah haji asal Indonesia. Sebab, belum ada jamaah haji asal negara manapun yang menggunakan seragam serupa dengan batik. Jadi, bagi jamaah haji Indonesia tetap berhati-hati dan ingat jalan saat dari pemondokan hingga masjid agar tidak nyasar.

Awas, Penipuan Berkedok Menyimpan Barang di Loker Masjidil Haram


MAKKAH–Kepala Sektor Khusus Jemaah terlepas dari rombongan, M.Ali Saifudin mengingatkan seluruh jemaah haji untuk mewaspadai berbagai tipu daya di kawasan kompleks Masjidil Haram, terutama tawaran menyimpan barang di loker.

Kepada calon haji (Calhaj) yang baru tiba dari Madinah di Mekkah maupun Jeddah yang masuk tanah suci sebagai gelombang kedua, untuk mewaspadai berbagai tipu daya di kawasan kompleks Masjidil Haram, katanya, Minggu malam.

Bentuk penipuan itu antara lain, yang belakangan ini semakin marak adalah tawaran menyimpan barang di loker khusus yang dijaga seorang askar.

Ali mengatakan, banyak jemaah yang tengah sa`i didekati orang tak kenal. Bila jemaah bersangkutan membawa tas, oleh orang tak dikenal diminta agar barangnya disimpan di loker yang tersedia di luar Masjiil Haram.

Memang jemaah tersebut ikut menyaksikan dan menyimpan barang di loker yang tersedia. Tetapi, bila yang bersangkutan kembali ke tempat loker usai mengerjakan sa`i, maka barangnya sudah hilang. Sedangkan askar yang menjaga loker tak mau tahu ketika ditanyai.

Menurut Ali, ketika barang disimpan dan loker terkunci, anak kunci dipegang oleh orang tak dikenal, yang semula menawari jasa simpan barang. Ia berpendapat, jenis penipuan itu merupakan modus baru. Diduga ini merupakan kejahatan terorganisir dan melibatkan orang dalam.

Mana mungkin konci loker bisa dipegangoleh orang sembarangan, katanya lagi. Ia berharap, jemaah haji Indonesia meningkatkan kewaspadaan. Kenali ciri petugas dan orang tak dikenal yang bermaksud jahat.

Saat Armina, Jamaah Tak Perlu Banyak Bawa Barang


MAKKAH–Selain persiapan fisik dan mental, para jamaah calon haji juga perlu dibekali pengetahuan jelang pelaksanaan wukuf di arafah, mabit di Muzdalifah, dan Mina (Armina). Salah satunya adalah pembekalan yang tidak perlu berlebihan.

“Memang banyak jamaah yang tidak paham kemudian membawa koper. Seharusnya secukupnya saja,” kata Kasatgas Mina, Subakin Abdul Muthalib saat ditemui wartawan di Wisma Haji Rusayfah, Makkah, Jumat (12/11/2010).

Sebab, jika para jamaah membawa barang-barang secara berlebih dikhawatirkan akan merepotkan si jamaah itu sendiri. Karena, membawa badan saja sudah letih, ditambah lagi dengan membawa koper atau tas besar.

“Maka saran saya bawa barang secukupnya,” kata Subakin lugas.

Selain disarankan membawa barang secukupnya, para jamaah juga diharuskan untuk meninggalkan barang-barang berharga di pemondokan dan disimpan di tempat yang aman. Sebab, di lokasi tenda Armina bisa jadi kurang aman bagi para jamaah untuk membawa barang berharga seperti perhiasan dan uang.

Jarak antara Kantor Misi Haji Indonesia di Mina dengan jamarat sekira 2 kilometer. Sementara jarak tenda jamaah terjauh di Mina Jadid menuju jamarat sekira 7 kilometer. Mina Jadid merupakan pengembangan dari Mina yang karena faktor alam tidak bisa menampung semua jamaah. Di Mina Jadid ada 10 maktab Indonesia.

Diperkirakan fisik para jamaah akan terkuras saat berjalan kaki dari arah Mina menuju jamarat untuk melakukan lontar jumroh aqobah, wustha dan ula. Jarak dari tenda jamaah terjauh mencapai tujuh kilometer yakni di Mina Jadid. Sedangkan terdekat dilakukan dengan jalan kaki sejauh dua kilometer.

Selain membawa barang yang tidak terlalu banyak, para jamaah juga diharapkan tidak merokok saat melaksanakan proses ritual haji. Sebab, banyak papan pengumuman di Armina yang meminta kepada jamaah tidak merokok. “Memang itu imabuan dari pemerintah Saudi. Saya harapkan jamaah juga mematuhinya,” papar Subakin. mch/Riyanto

Tips Saat Wukuf Agar Tetap Bugar


Wukuf di padang Arafah artinya berhenti atau berdiam diri, adalah salah satu rukun haji, jika dalam rangkaian haji seseorang tidak melakukan wukuf maka hajinya tidak sah.

Wukuf dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, dari Dzuhur sampai matahari terbenam, momen yang paling ijabah ini biasanya digunakan jamaah untuk berdoa, zikir, dan membaca Alquran.

Karena semua jamaah haji berada di padang arafah, maka tidaklah mudah kita datang dan pergi sesuai waktu yang dianjurkan. Biasanya jamaah sudah datang lebih awal bahkan tidak sedikit yang sudah datang sehari sebelumnya.

Di Arafah jamaah menginap dan berlindung dari sengatan matahari di tenda-tenda, perubahan cuaca antara siang dan malam yang ekstrem kadang membuat tubuh rentan terhadap berbagai gangguan penyakit. Apalagi usai wukuf jamaah harus menempuh perjalanan darat menuju Musdalifah dan ke Mina untuk melempar jumroh. Tidak sedikit jamaah yang menempuh jalan kaki daripada menunggu bus pengangkut yang sering macet sampai berjam-jam. Ibadah fisik ini memerlukan stamina tubuh yang prima.

Di Arafah segala fasilias umum seperti MCK sangat terbatas, air menjadi barang langka.

Agar tubuh tetap bugar dan dapat beribadah dengan khusuk, inilah tips selama berada di Arafah:

* Jaga stamina dengan makanan bergizi, banyak makan buah, banyak minum, dan jangan makan dan minum yang Anda belum pernah mengenalnya, ini untuk menjaga agar tidak sakit perut.
* Istirahat cukup
* Membawa masker basah untuk menjaga kelembaban mulut dan tenggorokan.
* Membawa gayung kecil, karena banyak MCK yang gayungnya raib entah kemana.
* Membawa pakaian ihram lebih dari satu
* Membawa kipas, payung, senter, tikar kecil, botol untuk persediaan air minum, serta makanan ringan.
* Membawa obat-obatan ringan yang biasa dikonsumsi jika terjadi gangguan kesehatan.

Lima Jangan Untuk Jamaah Haji




Ada lima hal yang harus diperhatikan para jemaah haji Indonesia ketika berada di tanah suci antara lain :

Pertama, jangan mudah percaya pada pengemis yang mengaku kehilangan semua harta benda mereka dan perlu kembali ke Jeddah, Makkah, Madinah atau daerah lainnya. Lebih baik berikan sadaqah Anda melalui badan resmi seperti amil zakat karena mereka lebih mengetahui siapa yang membutuhkan.

Kedua, jangan berbicara dalam Bahasa Inggris dan asing di toko-toko Saudi Arabia. Biasakanlah berbicara Bahasa Arab, walau setengah-setenga. Jika Anda berbicara dalam Bahasa Inggris, maka pedagang akan menaikkan hara barang dagang hingga 200 persen.

Ketiga, jangan biarkan perempuan berbelanja sendiri tanpa pendamping pria. Sebaiknya belanjalah bersama-sama.

Keempat, jangan memotret dalam Masjidil Haram. Anda harus merelakan tas Anda digeledah oleh petugas keamanan mesjid.

Kelima, jangan naik taksi, sewa unta atau jasa lainnya, kecuali Anda dan si pemberi jasa sudah sepakat dengan harganya. Intinya, tawar dulu dan jangan langsung terima, dan jangan langsung naik.

Enam, jangan menawar jasa pemotretatan dari atas unta secara sembarangan, karena si pelayan akan langsung mengambil gambar Anda dan memaksa Anda membeli fotonya. Anda harus berani bilang, “No Picture”

Tips Melempar Jumroh


Setelah wukuf di Arafah jemaah haji akan melempar jumroh di Mina dan mereka akan berada di Mina selama tiga hari di sini.

Saat ini tempat melempar jumroh dibuat lima lantai yang dapat menampung 300 ribu jamaah. Ada hal yang menarik dari renovasi tempat jumrah, jika anggota jamaah datang dari salah satu pintu, maka mereka tidak mungkin bertemu dengan anggota jamaah yang datang dari pintu lain.

Mereka yang datang dari arah Mina (barat) akan masuk melalui lantai pertama, sementara jemaah dari Mina (selatan) berada di lantai dua.

Lantai tiga diperuntukkan bagi jemaah yang datang dari Mina pusat (Jl. Raja Fahd dan lereng bukit Mina), sedangkan lantai keempat untuk jamaah yang datang dari arah Jl. Raja Abdulaziz.

Rangkaian kamera pengawas memonitor setiap sudut ruangan dan dihubungkan ke pos kendali keamanan untuk mengantisipasi layanan darurat jika terjadi kecelakaan.

Ada tiga tempat ritual pelemparan yaitu jumroh Aqobah, Ula, dan Wustha, dan berikut tips-tips melempar jumrah.

1. Para jemaah mengumpulkan batu-batuan tersebut di hamparan tanah Muzdalifah.
2. Janganlah terburu – buru ketika ingin melempar batu jumrah, bersabarlah.
3. Kenakanlah sepatu ketika melempar jumroh.
4. Jika anda tidak mampu melempar maka terdapat jasa pelayanan yang akan menggantikannya.
5. Setelah selesai para jemaah bisa melakukan tahalul.